Menurut dr Florence Meilani Manurung, SpM, setiap orangtua mengetahui
kesehatan matanya lebih dulu. Jika orangtua memiliki riwayat kelainan
mata, misalnya, mata minus, plus, silinder, tumor mata, glaukoma,
pertumbuhan iris tidak sempurna, dan lainnya, ada kemungkinan diturunkan
secara genetis. Anak-anak jarang mengeluhkan kondisi penglihatannya.
Karena itu, orangtua harus mewaspadai beberapa hal yang biasanya
mengarah kepada masalah mata pada anak. Di antaranya sebagai berikut:
1. Bayi terlahir prematur atau berat badan lahir rendah. Bayi-bayi ini
biasanya terpapar oksigen tinggi sehingga mengalami problem retina.
Mintalah dokter mata untuk melakukan pemeriksaan dengan RetCam.
2. Terlihat seperti
mata kucing,
terutama ketika kena cahaya terang atau saat difoto. Ini salah satu
gejala tumor, jangan tunda ke dokter mata karena menyangkut keselamatan
anak.
3. Bola mata tidak normal sejak lahir (dari segi bentuk, ukuran, dan gangguan gerakan).
4. Setelah usia 4 bulan, bayi masih juling atau tidak ada kontak mata saat bertatapan meskipun pada jarak dekat.
5. Ada kelainan di sekitar kelopak mata, misalnya bulu mata mengarah
ke dalam (epiblefaron), kelopak mata tidak terbentuk (koloboma), kelopak
turun (ptosis).
6. Memiringkan kepala, memicingkan mata, mendekati obyek bila melihat sesuatu.
Orang tua selalu bilang makan wortel supaya mata sehat, ada juga yang
bilang makan banyak wortel setiap hari supaya terhindar dari minus.
Beberapa beranggapan bahwa makan atau minum jus wortel dapat menormalkan
mata yang minus. Benarkah semua anggapan itu? Lalu bagaimanakah menjaga
kesehatan mata kita? Berikut tips sederhananya.
Secara umum fungsi mata adalah sebagai indera
penglihatan yang menerima rangsangan cahaya pada retina dengan
perantaraan serabut-serabut Nervus Optikus, menghantarkan rangsangan ini
ke pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan.
Bukan rahasia lagi memang vitamin A merupakan faktor
penting bagi keadaan mata kita. Seperti yang selalu dianjurkan orang tua
kita untuk banyak mengkonsumsi wortel yang terkenal dengan kandungan
vitamin A-nya. Karena kekurangan vitamin A dapat menimbulkan beragam
gangguan mata, salah satunya rabun senja. “Vitamin A memberikan energi
dan menjamin regenerasi sel lebih baik,” terang dr. Ria Sylvia Sp.M,
dokter spesialis mata dari RS Mata Undaan di sela-sela kesibukannya.
Namun, dr. Ria - sapaan akrab dr. Ria Sylivia -
menjelaskan bahwa vitamin A bukanlah jawaban bagi penderita rabun jauh
(minus) atau rabun dekat (plus) untuk dapat sembuh, seperti mitos yang
banyak tersebar di masyarakat. Kekurangan Vitamin A juga bukan penyebab
timbulnya kelainan kemampuan melihat tersebut, yakni rabun jauh dan
rabun dekat. “Dulu pernah ada kejadian besar bahwa banyak orang
mengalami rabun jauh karena kurang konsumsi vitamin A, lalu setelah
mereka mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A mata mereka
berangsur-angsur sembuh,” tutur dokter lulusan Universitas Airlangga
ini. “Maka dari itu stigmanya, kalau penglihatan mulai tidak jelas, maka
orang langsung identik pada wortel,” lanjutnya dengan senyum.
Untuk kelainan rabun dekat atau pun jauh, diakibatkan
karena kelainan anatomi mata, atau pada genetik. Ia kemudian
menjelaskan bahwa saat ini permainan untuk anak-anak yang beredar adalah
permainan yang banyak memiliki detail kecil-kecil yang menuntut
akomodasi mata lebih, seperti contohnya komputer yang memiliki banyak
detail tulisan, papan tulis putih yang terkadang memiliki tulisan spidol
terlalu tipis.
Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini
melanjutkan bahwa jika dibedakan dengan permainan anak-anak zaman
dahulu yang mayoritas outdoor dan terbuat dari kayu yang memiliki ukuran
besar maka tidak terlalu membutuhkan akomodasi mata yang berlebihan.
Karena jika akomodasi mata berlebih, otot cepat capek dan akhirnya
mengeluh pusing.
Ia menghimbau, terutama bagi para orang tua yang
memiliki anak masih umur anak sekolah, untuk lebih sadar dan waspada
dengan kebiasaan anak yang tidak biasa. Seperti contohnya:
- Nonton televisi terlalu dekat
- Posisi anak saat melihat, pertama-tama melihat tegak kemudian
memiringkan kepala terlalu ke kiri atau ke kanan, atau terlalu menunduk
dan juga menengadah
- Prestasi menurun
Bisa jadi beberapa ciri tersebut merupakan ciri-ciri
mata anak Anda tidak normal, maka dokter ini menghimbau kepada para
orang tua untuk memeriksakan kondisi mata anak kepada dokter mata.
“Kalau anak-anak kan tidak terlalu dapat mengeluhkan keadaannya
dibandingkan orang dewasa, maka orang tua harus lebih aware,” tutur dr.
Ria.
Sedangkan fungsi mata sendiri menurun dengan
sendirinya di umur 40 tahun ke atas dikarenakan proses degenerasi. “Jadi
sebenarnya ya gunakan kacamata saja jika memang kegiatannya menuntut
kita untuk melihat detail, kacamata itu kebutuhan, disesuaikan saja
dengan keadaan,” jelas ibu tiga orang anak ini. Ia mencontohkan bahwa
lanjut usia pun umumnya saat ini melahap koran setiap pagi dan menuntut
akomodasi mata lebih sehingga memerlukan bantuan kacamata untuk melihat
lebih jelas.
Ketika ditanya bagaimana cara untuk menjaga kesehatan
mata, ia kemudian menjelaskan bahwa mata yang sehat secara fisik belum
tentu sehat secara fungsi. “Orang minus itu kan matanya secara fisik
baik-baik saja, tetapi fungsinya yang kurang,” jelasnya. Sehingga jika
untuk menjaga mata sehat secara fisik maka:
- Jaga kebersihan mata, seperti contohnya membersihkan kotoran mata
yang kerap timbul di pagi hari. Kotoran mata ini merupakan air mata yang
mengering.
- Bagi Anda yang menggunakan contact lens, jaga kebersihannya untuk menghindari iritasi
- Hindari trauma pada mata, seperti contohnya hindari tempat yang
terlalu berdebu atau gunakan pelindung mata jika pergi ke tempat yang
berdebu.
- Jaga nutrisi atau asupan makanan sehingga dapat menjamin regenerasi sel dengan baik.
- Jangan lupa untuk melakukan screening secara rutin, untuk anak-anak
selama 6 bulan sekali, sedangkan untuk usia senja minimal memeriksakan
keadaan mata 1 tahun-2 tahun sekali.
Tidak mengetahui warna dan sulit membedakannya, memang dua hal yang
berbeda. Dua kelainan tersebut dikatakan buta warna yakni sulit
membedakan warna asli objek yang dilihat.
Hidup tentu saja
semakin sempurna jika anak-anak yang dilahirkan juga memiliki
kesempurnaan, baik fisik atau mental. Namun, ternyata saat memasuki usia
tiga dan empat tahun, anak belum bisa menyebutkan warna yang
diperlihatkan padanya bisa jadi pertanda buruk. Karena umumnya pada usia
tersebut, anak normal akan mampu menyebutkan lima hingga sepuluh warna
yang ditunjukkan dan mampu menghafalkannya. Jika anak Anda tidak bisa
membedakan warna terhadap objek yang dilihat, maka perlu diwaspadai.
Bisa jadi, anak mengalami kesulitan mengenal warna atau disebut pula
dengan buta warna.
Pada umumnya, saat anak berusia tiga dan
empat tahun, kemampuan mengenali warna secara verbal semakin meningkat.
Jika anak berusia empat tahun masih mengalami kesulitan mengenali
beberapa warna tertentu atau secara konsisten menggunakan warna yang
salah, misalnya menyebut crayon hijau dengan cokelat, maka kemungkinan
anak mengalami buta warna.
Menurut dr Wardiman SpM dari RS
Mitra Keluarga Jakarta, buta warna adalah ketidakmampuan melihat
warna-warna tertentu. Sementara, penglihatan normal memiliki tiga
subsistem, yaitu pembeda terang-gelap, kuning-biru, serta merah-hijau.
Buta warna terjadi karena kekurangan pada satu atau dua sistem tersebut.
Selain itu, buta warna juga diakibatkan karena adanya
kerusakan atau kelainan pada sel kerucut yang terdapat pada retina
sentral. Penyebab lain karena retina mata memiliki sel-sel berbentuk
batang. Sel-sel kerucut sendiri terdiri dari tiga macam, yakni sel
kerucut untuk warna merah, warna biru, dan warna hijau. Jika salah satu
terganggu, maka proses membedakan warna akan ikut terganggu.
Buta warna, menurut Wardiman, dapat bersifat kongenital (diturunkan) dan
buta warna acquired (yang didapat). Namun, sebagian besar terjadi
secara kongenital. Buta warna kongenital paling banyak terjadi karena
kelainan gen yang terangkai dengan kromosom X. Itulah yang kemudian
membuat buta warna banyak diderita kaum pria dibandingkan wanita.
Adapun untuk jenis, buta warna dibedakan berdasarkan tipe kerucut yang
dimiliki dichromat (buta warna sebagian) memiliki 2 dari 3 kerucut
warna, manochromat (buta warna total) hanya memiliki 1 kerucut warna.
Gangguan pada sel-sel kerucut tersebut bisa terjadi sebagian, bisa juga
keseluruhan. Pada kasus dichromat yang umum terjadi, buta warna
merah-hijau dengan sistem biru-kuning dan terang-gelap masih berfungsi.
"Ada juga kasus buta warna kuning-biru, yang hanya bisa membedakan
warna merah- hijau. Namun, jika sel-sel kerucut sama sekali tidak
berfungsi, maka penderita buta warna benar-benar tidak tahu warna-warna
yang dilihatnya. Penderita manochromat hanya bisa melihat hitam, putih,
dan abu-abu," sebutnya.
Pakar kesehatan anak (pediatrik) dari
Alfred I duPont Hospital for Children Wilmington, Delaware-AS, Neil
Izenberg MD dan Steven Downsend MD, mengatakan orang dikatakan memiliki
gejala buta warna bila dia tidak bisa melihat gambar atau angka yang
dibuat dari titik-titik berwarna.
Para dokter mata biasa
menguji mereka yang diduga buta warna dengan menunjukkan sebuah gambar
yang terbuat dari sekumpulan titiktitik berwarna. "Untuk beberapa orang
yang punya indikasi buta warna, warna-warna merah, oranye, kuning dan
hijau dianggap sebagai warna yang sama," sebut Izenberg. (fn/km/sh/ok)
www.suaramedia.com